Rabu, 14 September 2011

Pentingnya edukasi seks yang benar

Pada usia remaja terjadi perkembangan pesat, baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual, yang menyebabkan rasa keingintahuan mereka juga tinggi. (Foto: Google)

MASIH banyak orangtua yang salah persepsi soal edukasi seks yang terfokus hanya pada hubungan pria dan wanita. Padahal, edukasi seks tidaklah sesempit itu artinya.
Seks berasal dari bahasa Inggris yaitu sex yang menurut Wikipedia memiliki dua arti, pertama yaitu jenis kelamin, kelas-kelas dalam dimorfisme seksual (sexual dimorphism) akibat adanya sistem penentuan kelamin pada organisme. Arti kedua adalah kegiatan yang berkaitan dengan manipulasi organ kelamin, khususnya hubungan seksual; namun dapat juga sesuatu yang mengarah pada hal tersebut.

Dari pengertian tersebut, sayang arti kedualah yang justru mendominasi. Dikatakan oleh psikolog keluarga dari Personal Growth, Dra Ratih Andjayani Ibrahim MM Psi bahwa saat mendengar kata seks yang terlintas di pikiran hampir setiap remaja adalah lebih dari 50 persen menjawab tentang hal terkait perilaku seksual.

Sementara jawaban lain sebanyak 11,97 persen yang cukup menonjol adalah kesan negatif yaitu tabu, jorok, jijik, tidak baik dibicarakan. Lainnya sekitar 6,97 persen menjawab tidak tahu atau biasa saja. Yang bisa diartikan, mereka merasa masih terlalu kecil dan tidak perlu mengetahui urusan seksualitas.

Sementara bagi para remaja saat ditanya hal apa yang ingin ditanyakan seputar masalah seks, 34,34 persen murid mengajukan pertanyaan seputar perilaku atau hubungan seksual, sedangkan 26,79 persen menjawab tidak tahu. Hal ini semakin menguatkan bahwa mereka merasa belum cukup umur untuk membahas dan terbuka soal seksualitas, ucapnya dalam acara Kotex I Know Campaign yang diadakan di SMPN 115 Tebet, Jakarta, beberapa waktu lalu. Selain itu, mereka juga sadar betul bahwa masyarakat Indonesia masih tabu membicarakan hal-hal seksualitas. Dikatakan Ratih, setiap remaja, terutama remaja perempuan, pasti sangat sadar akan perubahan yang terjadi dalam tubuhnya dan perubahan tersebut tidak sebatas pada perubahan fisik, tetapi juga psikologis.

Umumnya para remaja di usia ini mulai tertarik kepada lawan jenis. Mereka mulai mengenal pacaran, namun tidak pernah membicarakan mengenai hubungan mereka dengan lawan jenis kepada guru dan orangtua. Alasannya, entah malu atau bahkan mereka anggap itu tabu untuk dibicarakan. Itu sangat disayangkan, karena sulit sekali bagi mereka untuk menemukan teman bicara atau teman curhat yang tepat, tandas psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT-UI) ini.

Namun, orangtua tidak dapat menyalahkan para remaja yang berani mengeksplorasi seksualitas meskipun dengan pengetahuan yang sangat minim atau terbatas.
Lewat pengetahuannya yang terbatas, diikuti dengan kepercayaan terhadap mitos mengenai seksualitas yang beredar di masyarakat, mereka dikhawatirkan memiliki pemikiran yang tidak benar seputar mitos seksualitas ini.

Kenyataannya, mereka yang tidak membicarakan pengetahuan ini bersama orangtua, dengan mudahnya mengakses informasi mengenai seksualitas dari internet yang membuat mereka lebih nyaman daripada bertanya langsung kepada guru atau orangtua, paparnya.

Beberapa mitos di seputar tubuh perempuan dan seksualitas yang banyak beredar di masyarakat, di antaranya saat menstruasi, kita tidak boleh keramas. Memakai bra meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Payudara kita akan lebih besar jika kita sering memegangnya.

Banyak persepsi yang salah dan harus diluruskan mengenai edukasi seksualitas terhadap para remaja di Indonesia, khususnya di Jakarta, ucap psikolog ternama ini.

Kurangnya pemahaman terhadap edukasi seks ini juga diakui oleh ginekolog dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr Boy Abidin SpOG. Dia mengatakan, pemahaman remaja tentang seksualitas masih kurang. Sama seperti yang dikatakan Ratih, Boy menuturkan, pada usia remaja terjadi perkembangan pesat, baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual, yang menyebabkan rasa keingintahuan mereka juga tinggi.

Berani bereksplorasi, terutama dalam hal seksualitas adalah dampak dari rasa keingintahuan mereka yang tinggi, ujar dokter lulusan Universitas Padjajaran ini. Padahal ketika remaja yang melakukan hubungan seks itu berusia di bawah 20 tahun, justru mereka rentan dengan sebuah virus yang mengakibatkan kanker leher rahim atau kanker serviks.

Walaupun tidak berdampak langsung dan bersifat long term, tetapi bakteri silent killer ini memiliki efek yang baru akan terlihat 10 hingga 20 tahun mendatang. Jangan pernah coba-coba jika tidak tahu akibatnya, pesan dokter kelahiran Surabaya ini.
Itu sebabnya, pembekalan mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas sangat penting diberikan kepada remaja sejak dini supaya remaja perempuan memiliki pengetahuan yang benar dan akurat mengenai tubuh dan aspekaspek kehidupannya. Dengan pembekalan, diharapkan mereka tidak salah arah dalam membuat keputusan, ungkap Boy.
(Koran SI/Koran SI/tty)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda sangat kami butuhkan.
Boleh beriklan, boleh pasang link website/blog anda.
Tapi dilarang mencantumkan Nomer HP dan Alamat Email.